Talkshow Pengaruh Bacaan Petualangan Fantasi Pada Anak

Datang sebagai pengunjung pertama di event ini bersama Jeng Dian, karena kami belum memiliki undangan. Sebelumnya sudah menghubungi Mbak Cupi yang nama dan nomer teleponnya tercantum di info acara, tetapi menurutnya kami nggak perlu tiket masuk. Silakan datang saja. Ternyata ketika akan mengisi buku tamu kami ditanya dari media mana (Loh acara untuk media-kah?!). Yaah terima nasih aja deh kalau agak dianak tirikan gituh….walaupun secara kalau bilang dari media, daku emang bisa memakai beberapa media cetak en blog. Toh daku memang penulis lepas, dan penulis tetap beberapa blog ;-D Selain media penerima tamu-nya juga nanya apakah kami dari sekolah. Saya bilang aja kalau saya dari “umum” – yah,walaupun saya juga pengajar di beberapa tempat dan sedang membangun komunitas “pendongkrak” prestasi anak – anak dan remaja. Ketika melihat pengunjung memegang kertas berisikan kuis yang harus ditebak oleh pengunjung dan menurut MC-nya nanti akan dapat hadiah bagi pengunjung yang jawabannya benar, Dian langsung menuju ke meja penerima tamu dan meminta kertas tersebut. Tetapi ternyata ditolak,Bo’ dengan alasan kami berdua bukan undangan!!! Huahaha…benar nih dianak tirikan? ;-p Alhamdulillah seh, MC-nya melihat kami yang duduk di belakang justru memanggil kami untuk duduk paling depan. Yup, kami memang benar – benar berminat untuk mendengarkan talkshow yang materi-nya benar – benar menarik minat kami berdua, terutama untuk saya yang perlu insight untuk bahan tulisan, mendidik murid-murid (yang bukan sekedar mengajarkan subject pelajaran kurikulum) dan mengimbangi belasan keponakan langsung saya (kalau plus keponakan dari sepupu-sepupu jumlahnya ratusan, Bo’!).

Para pembicara dan moderator mulai beraksi. Pas banget isi materi talkshow tersebut, sayangnya pembicaraan kurang lama waktunya…hehehe….Saat materi tanya jawab saya sempat bertanya ke nara sumber (Kesempatan bertanya terbagi 2 sesie, masing – masing sesie diberikan untuk 3 penanya. Ternyata 5 penanya tersebut memang berasal dari media – sepertinya hanya saya yang mengatakan bahwa saya dari “umum” ;-D).

Pertanyaan yang saya ajukan, intinya adalah : Penanganan untuk anak yang kebablasan membaca secara thema dan bacaan untuk anak seusianya, serta penanganan untuk anak – anak istimewa (seperti autis, gifted dan indigo). Apakah dengan membaca petualangan fantasi dapat lebih memacu imajinasi “kebablasan” yang mereka miliki? Pertanyaan tersebut memang saya butuhkan untuk menangani beberapa murid dan orang dekat saya yang istimewa. Alhamdulillah, Ibu Kassandra Putaranto memberi informasi tentang komunitas yang beliau dirikan untuk menangani anak – anak istimewa tersebut, dan kita dapat bergabung di komunitas tersebut yang telah memiliki group di Facebook. Insya Allah saya akan gabung , karena saya merasa anak – anak istimewa ini (khususnya yang orang tua biologis-nya tidak mampu) merupakan amanah yang diberikan kepada Allah yang diberikan kepada kita, para hamba Allah untuk saling mengisi dengan mereka yang memiliki keistimewaan. Jawaban diberikan, dan soal bacaan untuk anak – anak indigo…hehehe, tentu buku Ulysees Moore cocok untuk mereka, namun anak indigo apa sih yang nggak mereka ketahui…hihihi…

Nah, untuk kita masyarakat dewasa (khususnya untuk para ibu) agar anak – anaknya gemar membaca maka kita harus :

- Memberikan fasilitas, seperti buku – buku berikut raknya, ruangan membaca, lampu penerangan yang baik untuk membaca.

- Learning by doing. Orang tua menjadikan role model bagi anak – anak mereka. Yang pasti agar menjadi contoh bagi anak – anaknya. Kalau orang tua nggak sempat, maka orang tua harus memberikan arahan ke PRT/suster atau pengawas anak agar mereka juga gemar membaca dan mengawasi bacaan anak. Jadi PRT-nya juga dididik menggemari buku.

- Setiap anak lahir dengan kapasitas masing – masing. Ngerti multiple intelegent khan?? Nah kalau anaknya cerdas audio, maka kasih aja buku yang sesuai dengan bakatnya. Or baca’in deh kalau gak pegel ;-D

Alhamdulillah saya terlahir di keluarga yang gemar membaca dan menulis. Ibu saya sih bukan kutu buku, yang mendidik saya gemar membaca dan selalu rutin membawa saya ke toko buku setiap weekend dan membebaskan saya membeli buku (asal dibaca benar!) adalah ayah saya. Ayah saya yang beberapa hari mentraktir saya buku – buku baru di toko buku memanggil saya dan meminta saya menceritakan isi buku tersebut kepadanya. Nah, berarti sebenarnya ayah juga dapat menjadi arsitek bagi anak-nya dong!? Kalau menurut kesimpulan dari talkshow tersebut ibu yang harusnya menjadi arsitek untuk anak – anaknya. Hari Minggu, arisan keluarga di rumahku. Sekar, keponakanku yang juga penulis langsung minta ke saklar listrik untuk nge-charge notebook-nya. Membuka notebook dan langsung menulis.Saya sempat menyodorkan buku Ulysses Moore yang saya beli dengan diskon 10% itu. Katanya dia belum pernah melihat buku tersebut di toko buku umum. Begitu membalikkan buku tersebut dia terlihat tertarik, menurutnya desain buku-nya menarik. Meskipun dia bilang harganya mahal, tetapi aku bilang tidak terlalu mahal dengan desain dan kertas hardcover seperti buku ini. Lama ia mengamati buku tersebut dan bermaksud meminjamnya. Saya bilang aja….saya mau baca dulu, minggu depan baru deh akan saya pinjamkan ;-D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.