Sunset @ Losari Beach

Menatap sudut huruf di tepian Pantai Losari yang membentuk nama pantai terkenal di Timur Indonesia, Vega terlihat duduk di salah satu bagian yang menjadi anjungannya. Penduduk Makassar telah berkerumun menanti tersapu pandanganpenguasa siang. Kegarangan itu meredup bagai putri malu, tak membekas kegarangan ketika waktunya menguasai bumi Makassar.

“Bumi Allah itu luas, namun dunia ini harus aku genggam!” itu tekad Vega. Satu persatu bumi Allah dijejakinya.

Aaaarrrggghhhh…itu tentang Vega, saya memang ingin menulis cerita dari bagian bumi Allah yang satu ini, Pantai Losari. Yang sedang duduk di anjungan ini adalah saya – sedangkan Vega adalah tokoh rekaan yang saya harapkan akan muncul di cerita fiksi saya berikutnya,entah novel atau cerpen namun cerita itu harus dengan background Makassar, kota yang baru berulang tahun ke-402 tahun dua hari lalu – 9 November 2009.

Saya memiliki banyak rencana dan impian. Bumi Makassar termasuk dalam list impian yang harus saya kunjungi sebelum saya pindah kea lam lain, dan saya tidak mengira harus dengan “cara ini” saya datang ke sini.

Wait…entah berapa pasang mata yang menatap ke arah saya, mungkin mereka merasa asing melihat seorang perempuan berhadapan dengan tulisan Pantai Losari sambil menatap matahari yang siap terbenam. Diantara mereka yang santai berjalan-jalan di sore hari saya memang nampak asyik dengan dunia “milik sendiri”…hehehe,kebiasaan yang seringkali diprotes oleh Rahyudhy. Saya membuka notebook milik seseorang yang tengah berada beberapa meter (kilometer) dari tempat saya duduk. Pernah terlintas informasi yang menjelaskan bahwa Pantai Losari memiliki fasilitas hotspot/WiFi or apalah istilahnya….jadi, saya sudah membayangkan akan menyusur dunia maya di pantai ini. Tetapi ternyata….dunia maya itu tidak terhubung di notebook ini, justru dunia milik saya sendiri yang ada. Saya meminta tolong seorang wanita dan pria untuk memotret saya dengan background tulisan lokasi, namun sang penguasa siang masih sempat mematahkan hasil pada lensa.

Kini sang penguasa siang telah hilang dari pandangan, berganti perlahan lampu yang memagari pantai memendar. Banyak orang masih terus mengabadikan peristiwa dengan camera telepon genggamnya. Kini dihadapan saya berpendar aneka lampu warna – warni, yang kecil dan tak jauh dari saya lampu warna-warni berpendar – pedagang mainan sedangkan selepas pandangan nampak kerlap-kerlip lampu StudioTrans Makassar, The Biggest Theme Park in The World…waw, sedemikian maju-kah kota ini??? Hari Minggu lalu saya berkunjung kesana, secara untuk saya yang sangat menyenangi permainan adrenalin menganggap bahwa permainan tersebut sama sekali tidak memacu adrenalin . Memang saya tidak naik jetcoaster atau area Jelajah dan ‘Dunia Lain’ (Rumah Hantu)…dikarenakan saya melihat kemampuan memacu adrenalin di sana masih rendah. Hei, ada yang berkelap-kelip lagi di dekat saya – yang ternyata kerlip warna-warni mouse yang saya gunakan! 🙂 Disebelah saya duduk seorang anak lelaki kecil – berusia 9 tahunan yang menjual lampu kerlip penuh warna.

Angin mulai menerpa tubuh dan mengibarkan jilbab saya. Saya memandang langit, sudah hampir pekat tetapi saya belum juga menemukan kerlip disana. Memang, seusai sunset saya menantikan kerlip Vega di pantai ini…kerlip bintang dari bumi Allah belahan yang baru kali ini saya pijak, Saya tidak pernah memiliki peta astronomi Indonesia, tetapi saya yakin kekayaan Allah dilangit tersebut dimanapun sama bentuk dan volume-nya. Andaikan saya memandang kerlip bintang itu, tentunya “dia” juga memandang bintang yang sama. “Kami” sama-sama memandang kerlip itu, kerlip bintang bagai intan berlian…aaaah saya memang merindukan kerlip tersebut. Saya yakin “dia” juga tengah menatap bintang yang sama dari alam-nya…..”Dia” yang tidak pernah saya miliki, karena “dia” kepunyaan-Nya. Andaikan saat ini “dia” berada di dekapan saya, tetaplah Allah sekedar menitipkannya.

Sudahlaaaah…saya mau berjalan kembali ke hotel, beberapa mata semakin memandang kea rah saya, apalagi kali ini terangnya cahaya monitor notebook menyinari kerlap-kerlip air mata yang menyusur tanpa saya sadari…..

Miss U, Kerlip Intan Laksana Bintang….Kamu tetap menjadi bintang dihatiku dan perhiasanku di surga. Amiiiiiin…..

18:37 Pantai Losari, 11 November 2009

PS.Setelah aku check ternyata ada tuh 2 wireless network connection, pertama TelkomHotspot Anjungan Losari dan ke-2 dari Hotel Kenari. Tapi tetap aja gak bisa,walau daku check udah connected. Tapi udah ah…malah dikerubutin anak kecil yang ikutan lihat ke monitor neh ;-D

Tiba-tiba saya ingin menyanyikan lagu ‘Ku Petik Bintang’-nya Sheila on 7, bertanya pada anak kecil disebelah saya yang sejak tadi sibuk menjajakan dagangannya.”Dik, ada lampu yang bentuknya bintang?”…Dia menyodorkan tongkat lampu berbentuk bunga,dan saya jawab : “Saya inginnya yang bintang…” dan saya meraih tongkat berbentuk bintang. Dengan pendar, saya berjalan meninggalkan anjungan Losari. Berhenti sejenak di jalan depannya, memandang ke atas…pendar beberapa bintang telah hadir. Saya menatapnya beberapa saat, mengucapkan selamat malam dan mengirim seuntai cinta…kemudian berjalan kembali.

*Ah,ini sih judulnya bukan ‘sunset’ lagi ;-p

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s