Habis Madame X Terbitlah Sang Pencerah

Tadi pagi jam 9an saya , Ika dan Dina telah berada di XXI Plasa Senayan. Dina mendapat tiket nonton bareng gratis dari Majalah Femina untuk 3 orang. Jadilah kami bertiga nonton film superhero waria. Unik memang, selama ini seorang superhero selalu digambarkan dengan seorang pria tampan dan berbadan kekar…atau seorang putri atau  peri yang keibuan nan anggun dan lemah lembut.

Barangkali sindiran sosial merupakan ciri khas thema film yang diproduseri oleh Mrs.Nia Dinata. Thema yang “tidak lurus” namun merupakan fakta dalam kehidupan. Ini memang fakta, namun jujur secara hati kecil saya lebih menyukai film yang memberikan solusi yang “lurus-lurus” saja…hehehe,walaupun barangkali saya pribadi merasa kusut. Memang dalam film ini banyak pihak yang disindir. Saya pribadi tidak merasa tersindir, namun saya juga tidak memiliki “kepentingan” dengan pihak yang disindir karena saya merasa tidak pernah diganggu oleh pihak yang disindir 😉

Usai menyaksikan film tersebut produser, sutradara, pemain utama dan pemain pembantu muncul nyata dihadapan kami. Diadakan kuis dengan 3 pemenang, dan diumumkan pemenang best dress yang melenceng berat dari dress code yang ditentukan oleh panitia. Hihihi…;-p Seharusnya yang menang 2 orang dong, Mbok Panitia – sesuai dengan masing-masing dresscode andai memang dalam 1 theater tersebut ditentukan 2 thema dresscode. Keluar dari ruangan para penonton berfoto ria dengan “3 istri” Kanjeng Badai. Hey,ekeh salut deh sama 3 istri ini yang bisa rukun dan kompakan dalam merawat diri…hihihi…Bravo dah!

Dari Plaza Senayan kami bertiga naik taksi ke Pasaraya Blok M. Lunch di MM Pasaraya, kemudian saya dan Dina ke Blok M Square 21. Kali ini nonton (bayar) film Sang Pencerah yang memang mencerahkan hati ini…;-) Lukman Sardi bagus banget mainnya. Serta banyak pemain terkenal di film ini yang actingnya juga tidak over. Rasanya cerah menyaksikan Giring Nidji, Ihsan Tarore serta Dennis Adishwara yang di film ini “tidak biasa” (istimewa??!). Ah, sayangnya cerita Sang Pencerah tidak tuntas hingga beliau menghabiskan masa dunia-nya. Namun tetap film ini memberi warna cerah di bioskop hiburan Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s